Pandangan sayu membelah gelap di ketinggian. Dikejauhan, batas pandang beradu dengan kelam malam. Langkah melemah sedang jalur kian menerjal. Deru motor semakin menguat membantai keheningan gunung yang sakral. Simbur cahaya purnama tak cukup kuat menerangi jalan. Selepas bintang-bintang ruah membanjiri langit, di atas sini hanya ada dingin dan sepi. Tubuh terhuyung sedang mulut tak berhenti merapal kata “Ara”. Di batas kerinduan dan keinginan, hanya ada sebaris ingatan tentang perjumpaan yang hangat. Selepas rindu yang tak sudah-sudah, pulang adalah Ara(h).
Bersua….
Pukul dua dini hari kami memarkir motor tepat di depan rumah setelah berjibaku dengan medan yang sempat membuat nyali kami ciut. Di mulut pintu, Pak Amir berdiri menyambut kami dengan hangat. Aku merangkul Pak Amir, dan seketika rindu yang menumpuk sirna. Hampir setahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Semuanya masih sama. Teras tempat kami berdendang di malam hari. Ruang depan yang lebih cocok disebut mushollah ketimbang ruang tamu. Ruang tengah tempat pasukan kami terlelap dalam dekap mimpi setelah seharian bermain dengan adik-adik. Dan dapur tempat aneka kreasi masakan tercipta walau rasa selalu menjadi persoalan kedua. Tak terlupakan memang. Jika ada yang berbeda mungkin cuma penampilan Pak Amir yang kelihatan lebih tirus. Aku protes untuk hal ini. Namun Pak Amir hanya tersenyum.
Rumah Pak Amir bagi kami adalah rumah kedua. Bagiku pribadi bahkan seperti rumah di kampung halaman. Pak Amir dan Ibu adalah orang tuaku sedangkan Musdalifah dan Faiz adalah adik-adikku. Di rumah aku tidak canggung melakukan ini dan itu. Bila ingin minum, tinggal ambil sendiri. Ada pisang dan kacang tanah goreng di atas meja, pertanda kau boleh mencicipinya. Pak Amir dan Ibu pun tak pernah protes. Mungkin ini yang membuatku selalu merasa betah. Kami tiba di waktu sahur. Mendengar kami telah tiba, ibu bangun dari tidurnya. Setelah menyalami kami, ibu buru-buru masuk dan memasak untuk santap sahur kami semua. Pagi itu, aku merasa sangat lengkap. Barangkali inilah sahur paling nikmat di Ramadhan ku kali ini.
Anak-anak
Pukul Sembilan pagi, aku bangun dan bergegas menuju sekolah. Setapak yang kulalui lumayan licin setelah diguyur hujan subuh tadi, mengingatkanku pada momen Sembilan bulan lalu ketika aku terjerembab di kubangan karena kurang berhati-hati berjalan persis di jalur ini. Aku tertawa kecil. Dikejauhan sayup-sayup terdengar tawa anak-anak dari bilik kayu. Aku mempercepat langkah. Riang tawa bocah-bocah kecil itu semakin jelas terdengar. Aku mulai menerka-nerka. “Mungkinkah itu suara Haerul? Mungkin juga suara Fajar? Ciwa kah? Atau mungkin Ruhul? Ah, anak-anak.” Kepala ku menyembul dari balik pintu. Dengan lembut ku sapa mereka. Senyum hangat kubiarkan menjelajah ruang kelas mencari peraduannya. Beberapa saat terasa canggung. Mereka hanya menatap tak tahu mau berbuat apa. Mungkin karena baru ketemu lagi. Pikirku.
Setelah beberapa lama beradaptasi akhirnya suasana mulai mencair. Aku berhasil membujuk mereka naik ke ruang kelas di atas. Di sana, mereka mulai bisa diajak bermain, menggambar, dan bernyanyi. Seorang dari mereka datang menghampiriku dan bertanya, “Kak darimana ki? Kenapa lama sekali baru ke sini?” Aku tersenyum. Ku bilang padanya di Makassar sedang banyak urusan. Ia lalu menanggapi, “Kak, enak di Makassar, banyak makanan, banyak juga mobil.” Aku tergelitik. Ide dari siapa pula anak ini bisa terpikir akan hal itu. Aku mengelus rambutnya. Terkadang yang membuat ku selalu ingin kembali adalah kepolosan mereka ini. Separuh keinginan untuk kembali ke Ara adalah tentang anak-anak. Bagiku, anak-anak adalah alasan utama untuk selalu menyempatkan diri berkunjung kembali ke dusun-dusun binaan. Semangat mereka, lincah kaki mereka berkejaran di pekarangan sekolah, tawa mereka disela-sela waktu belajar adalah terapi mujarab untuk sekelumit persoalan yang sedang dihadapi di perkotaan.
Perbincangan dengan Pak Amir
Sebagaiamana rencana awal, kami akan meninggalkan Ara pukul empat sore. Semua barang bawaan sudah tersusun rapi di teras dan siap diangkut andai Pak Amir tak mencegah kami. Pak Amir berkata ada baiknya kami pulang setelah berbuka puasa pun agar perut terisi dahulu sebelum perjalanan yang lumayan jauh. Sepanjang sore kami habiskan untuk ngabuburit di air terjun dekat rumah sambil bernostalgia masa-masa yang lalu. Pukul setengah enam petang kami sudah kembali ke rumah. Ruang tengah sudah disulap oleh ibu menjadi jamuan prasmanan dengan aneka masakan dari yang ringan hingga berat. Menurutku ibu cukup handal menyiapkan menu berbuka puasa dalam waktu yang singkat mengingat pagi harinya ibu dan Pak Amir harus ke sawah hingga siang hari. Tak terbayang lelahnya mereka seharian beraktifitas.
Beberapa saat kemudian kami telah berkumpul di depan hidangan. Pak Amir keluar dari kamar lengkap dengan kopiah dan sarung menyusul kami di ruang tengah. Suasana begitu sunyi. Tak seperti di kota. Di Ara, jarak mesjid dengan rumah Pak Amir lumayan jauh sehingga agak mustahil rasanya mendengar kumandang adzan magrib. Beruntung Musdalifah, anak sulung Pak Amir, memiliki ponsel yang bisa menangkap gelombang radio. Walau samar, setidaknya cukup bisa diandalkan sebagai sumber informasi waktu berbuka puasa. Tak lama adzan magrib pun terdengar. Semua menyantap hidangan dengan lahap.
Disela-sela waktu berbuka, aku mencuri waktu untuk berbincang-bincang dengan Pak Amir. Pak Amir selalu menjadi orang yang menyenangkan untuk berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari polemik sosial hingga masalah percintaan. Petang itu kami bercakap tentang kemajuan desa yang bagiku cukup mengejutkan. Aku bercerita tentang kondisi infrastruktur jalan yang kian membaik saat pertama kali masuk gerbang desa. Pak Amir sempat tertawa mendengar penilaian ku. Aku tak begitu pasti mengenai kesimpulan ku apakah ia bersepakat atau sedang merasa tergelitik. Pak Amir bukan cuma jago berdiskusi. Ia juga pandai memendam penilaiannya. Beliau tahu pasti bahwa dusun butuh banyak penawar untuk persoalan-persoalannya. Hanya saja ia tak mampu berbuat banyak tanpa inisiatif dari banyak orang. Menurutku, Pak Amir adalah sosok yang cerdas. Ia bukan cuma pekerja keras yang ulung, namun juga pemikir yang visioner. Tak mendapat dukungan bukan berarti ia berhenti untuk mencetuskan ide. Pak Amir ingin memulai dari dirinya sendiri. Jika ia tak dapat menjangkau warga satu persatu, ia ingin menjadi role model agar warga bisa melihat perubahan yang ia ciptakan. Saat ini, Pak Amir mulai tertarik untuk melirik budidaya lele, belut, dan ikan mas. “Di pasar sudah banyak yang cari.” Katanya. Ia ingin menjadi pioner bagi warga lain untuk memulai budidaya perikanan di Ara. Sebelum pulang, Pak Amir berpesan padaku, “Kamu harus selalu punya mimpi. Seperti saya yang selalu bermimpi menjadi petani sukses.” Kata-katanya membekas. Aku akan selalu merindukan perjumpaan dengan beliau dan berdiskusi tentang banyak hal. Kami berjabat tangan pertanda memulai babak baru bagi kerinduan-kerinduan yang menyusul. Di perjalanan, aku menebak-nebak arti tawa Pak Amir saat berbuka tadi. Bisa jadi itu bermakna Ara hari ini dan Ara setahun lalu saat pertama kali kami temukan masih sama.
M. Ardhan Akil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar